Akhir Hayat Seorang Pengkhianat
Gambar : forgettingforward.com
Menteri Muayaduddin bin Alqami menasihati Khalifah al-Mu'tashim agar datang menemui orang-orang Tartar yang dipimpin langsung oleh Holako Khan, cucu Jenghiz Khan, untuk mengadakan kesepakatan damai. Ternyata ini hanya siasat menteri. Sebab setiap rombongan yang diutus Khalifah keluar dibunuh. Begitulah seterusnya. Peristiwa ini telah banyak menelan korban dari kalangan ulama dan fuqaha serta orang-orang penting di sekitar Khalifah.
Setelah kekalahan demi kekalahan dialami pasukan Khalifah al-Mus'tashim, Menteri Muayaduddin bin Alqami terus membujuk sang Khalifah untuk berdamai dengan pasukan Tartar. "Holako Khan telah berjanji untuk tetap mengakui khilafah seperti yang dilakukannya terhadap Sultan Koniah. Bahkan dia akan mengawinkan putrinya dengan putra Anda, Abu Bakar," ujar sang menteri.
Akhimya, dengan seluruh pembesar, ulama dan para hakim di istana Baghdad yang jumlahnya mencapai tiga ribu orang, sang Khalifah berangkat menemui Holako Khan. Semula mereka disambut dengan ramah dan senyuman. Namun akhrirnya terjadilah pembantaian besar-besaran.
Kekejaman pembantaian ini melebihi apa yang dilakukan Nebukadnezar ketika menaklukkan Baitul Maqdis. Selama 40 hari,korban yang jatuh dalam peperangan lebih dari sejuta jiwa! Konon, selama empat puluh hari itu juga api tak permah padam di Baghdad. “Tak ada yang selamat dalam peristiwa pembantaian itu kecuali mereka yang sembunyi di dalam sumur atau kolong jembatan," tulis Imam as-Suyuthi dalam Tankh al-Khulafa'nya.
Imam adz-Dzahabi, ulama yang juga sejarawan lainnya, menuturkan, “Menurut saya, Khalifah tidak sempat dikebumikan." Setelah selesai dengan pembantaian terhadap khalifah dan penduduk Baghdad, Menteri Ibnu Alqami meminta Hulako Khan untuk mengangkat orang-orang Syiah sebagai khalifah. Namun permintaan ini ditolak oleh Holako Khan. Bahkan Ibnu Alqami dijadikan pelayan dan akhirnya dibunuh dalam keadaan mengenaskan.
Muhyiddin al-Khayyat dalam Tarikh Islami-nya sebagaimana dikutip Joesoef Sou'yb, menggambarkan akhir hayat sang pengkhianat itu dalam ungkapannya, "Holako Khan membunuhnya dengan lebih bengis setelah lebih dulu menistanya atas pengkhianatannya terhadap orang yang telah memberinya kenikmatan yaitu sang Khalifah."
Peristiwa kelam itu sekaligus menjadi puncak runtuhnya khilafah islamiyah. Tiga tahun berlalu. Kaum Muslimin hidup tanpa khilafah. Baru pada 13 Rajab 659 H, al-Mustanshir Billah dibaiat sebagai khalifah.
Tragedi memilukan itu menjadi catatan hitam sejarah Islam. Meski sempat bertahan selama beberapa waktu, tapi sejak penyerbuan pasukan Hulako Khan ke Baghdad, negeri Islam hancur luluh.
Peristiwa ini memang tak bisa dipisahkan begitu saja dengan kondisi internal Daulah Abbasiyah yang banyak melakukan penyimpangan. Selain perebutan jabatan dan kekuasaan, peranan orang-orang munafik dan pengkhianat memuluskan jalan menuju hancurnya kerajaan besar Islam ini.
Hadimya sosok Menteri Muayaduddin bin Alqami yang menjalin komunikasi dengan pimpinan pasukan Tartar, makin mempercepat laju keruntuhan Bani Abbasiyah. Akibat pengkhianatan tokoh Syiah ini, dalam sekejap, Khalifah al-Musta'shim dan pasukannya dibinasakan.
Begitu bahayanya para pengkhianat ini, sehingga Rasulullah saw selalu menindak keras para pelakunya. Pada Perang Khaibar, Rasulullah saw pemah menemukan Farwah, seorang prajurit yang karena teriknya matahari menggunakan sehelai kain untuk meneduhi kepalanya. Rasulullah saw berseru, “lkat kepala dari api neraka engkau ikatkan ke kepala?" Farwah segera melepaskan dan membuangnya.
Pada peristiwa ini juga ditemukan seorang laki-laki bemama Asyja' dalam keadaan tewas. Rasulullah saw tak berkenan menshalatkannya. Kepada para sahabatnya, beliau bersabda, “Teman kalian ini telah berbuat curang di jalan Allah!"
Ketika diperiksa ternyata benar. Di antara barang-barangnya ditemukan sebutir marjan (perhiasan) yang harganya tak sampai dua dirham. Memang, jika dibandingkan dengan ghanimah yang didapatkan kaum Muslimin, sebutir marjan itu tak seberapa. Al-Muqrizi dalam Imta'ul As-ma'-nya menyebutkan, di Qutaibah, sebuah wilayah di Khaibar, kaum Muslimin mendapatkan 40 ribu tandan anggur, 500 busur panah, 100 baju besi, 400 pedang dan 1000 tombak.
Jadi, sehelai ikat kepala yang diambil Farwah dan sebutir marjan yang disembunyikan Asyja', nilainya tak seberapa. Tapi, Rasulullah saw benar-benar mengambil tindakan tegas pada mereka.
Ketegasan Rasulullah saw itu, seharusnya menjadi sikap umat Islam. Marak-nya aliran sesat dan penyimpangan akidah, tak boleh dibiarkan. la harus ditumpas.
Kalau beragam penyimpangan itu diibaratkan jamur, maka ia harus dibasmi sampai ke akar-akarnya. Jika tidak, suatu saat ia akan muncul dan menjamur lagi. Pelarangan tak cukup dengan fatwa, tapi harus diiringi tindakan nyata.
Sumber : Ustadz Hepi Andi Bastoni
Post a Comment for "Akhir Hayat Seorang Pengkhianat"