Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Detik-Detik Yang Menegangkan, Strategi Rasulullah SAW Lolos Dari Kepungan Kafir Quraisy

DETIK-DETIK YANG MENEGANGKAN, STRATEGI RASULULLAH LOLOS DARI KEPUNGAN KAFIR QURAISY

Detik-Detik Yang Menegangkan, Strategi Rasulullah SAW Lolos Dari Kepungan Kafir Quraisy
Gambar : Pixabay.com

Kebencian kaum Quraisy dan kafir Mekah terhadap Muhammad SAW dan para pengikutnya kian memuncak tatkala mereka mengetahui bahwa sebagian penduduk Yatsrib (Madinah) telah memeluk Islam. Sebelumnya, dua delegasi yang mewakili penduduk Yatsrib memang telah menyatakan keislaman dan,sumpah setia mereka di hadapan Nabi Muhammad dalam Baiat Aqabah pertama dan kedua. Apalagi salah satu isi baiat itu adalah kesetiaan mereka untuk senantiasa membela kebenaran karena Allah, dan membela Nabi Muhammad saat beliau berada di tengah-tengah mereka, sebagaimana mereka membela diri sendiri dan anak-isteri mereka.

Kenyataan itu terasa sangat menyakitkan bagi kaum Quraisy dan kafir Mekah, karena apa yang diikrarkan oleh sebagian penduduk Yatsrib dalam Baiat Aqabah pertama dan kedua tersebut tidak hanya sekadar kata-kata. Dari hari ke hari, semakin banyak saja penduduk Yatsrib (Madinah) yang memeluk Islam. Bahkan dua suku besar (Aus dan Khazraj) yang selama ini saling berperang di Yatsrib pun telah tunduk dalam naungan Islam dan berjanji kepada Nabi Muhammad untuk menghentikan peperangan di antara mereka jika Nabi Muhammad mau menjadi penengah dan bersedia menetap di tengah-tengah mereka. Lebih dari itu masuk Islamnya sebagian penduduk Madinah akan sangat mengganggu kepentingan ekonomi mereka, karena mereka menyadari bahwa Madinah merupakan tempat yang strategis bagi perdagangan yang melewati pantai-pantai Laut Merah dari Yaman ke Syam. Setiap tahun penduduk Mekah membawa perdagangan ke Syam dengan nilai seperempat juta dinar emas, belum lagi dari penduduk Thaif dan yang lain.

Hijrah ke Madinah, Pilihan yang Terbaik

Dilatarbelakangi perkembangan di Yatsrib yang menguntungkan Nabi Muhammad SAW di satu sisi, serta membahayakan kepentingan kaum Quraisy dan sekutu-sekutunya di sisi yang lain, maka pada hari Kamis pagi tanggal 26 Shafar tahun ke-14 kenabian atau bertepatan dengan tanggal 12 September 622 M, kaum musyrikin Mekah mengadakan pertemuan di Dar Al-Nadwah untuk memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan dalam menghentikan dakwah dan pengaruh Nabi Muhammad SAW yang kian meluas. Pertemuan tersebut dihadiri oleh seluruh wakil dari kabilah-kabilah Quraisy, antara lain:

1. Abu Jahal bin Hisyam (mewakili kabilah Bani Makhzum).

2. Jubair bin Muth'am, Thu'aimah bin 'Adiy, dan Al-Harits bin Amir (mewakili kabilah Bani Naufal bin Abdi Manaf).

3. Jubair bin Rabi'ah, Utbah bin Rabi'ah, dan Abu Sufyan bin Harb (mewakili kabilah Bani Abdu Syamsy bin Abdi Manaf).

4. An-Nadhar bin Al-Harits (mewakili kabilah Bani Abdud Dar; ia yang pernah meletakkan kotoran isi perut kambing di atas punggung Nabi Muhammad).

5. Abu Al-Bukhturi bin Hisyam, Zam'ah bin Al-Aswad, dan Hakim bin Hizam (mewakili kabilah Bani Asad bin Abdul Uzza).

6. Nabbih bin Al-Hajjaj dan Munabbih bin Al-Hajjaj (mewakili kabilah Bani Sahm).

7. Umayyah bin Khalaf (mewakili kabilah Bani Jahm).

Dalam pertemuan itu muncul berbagai usulan mengenai tindakan apa yang akan dikenakan kepada Nabi Muhammad SAW beserta pengikutnya. Hampir semua usulan yang disampaikan oleh peserta pertemuan menginginkan agar Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya terus diintimidasi dengan berbagai siksaan fisik. Namun mendadak Abu Jahal mengemukakan usul yang lebih kejam dari semua usulan yang ada. Abu Jahal mengusulkan agar Muhammad SAW dibunuh saja. Caranya, mereka memilih dan mengirimkan seorang lelaki yang kuat dari setiap kabilah sebagai wakil mereka untuk membunuh Nabi Muhammad SAW, sehingga terpisah-pisah darah beliau pada berbagai kabilah. Dengan cara seperti itu diharapkan bahwa bila rencana pembunuhan tersebut berhasil, maka Bani Manaf (kabilah asal Nabi Muhammad) dan Bani Hasyim tidak akan berani memerangi mereka, sehingga akhirnya rela dengan menerima diyat (denda) saja. Semua yang hadir akhirnya menyetujui usulan yang disampaikan oleh Abu Jahal.

Dalam pada itu, saat keputusan untuk membunuh Nabi Muhammad SAW telah disepakati oleh para pemimpin kabilah Quraisy di Dar Al-Nadwah, Malaikat Jibril turun menemui Nabi Muhammad SAW. Ia memberitahukan kepada beliau tentang rencana keji para pemimpin Quraisy itu, sekaligus memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk segera keluar dari Mekah dan berhijrah pada malam hari itu juga ke Madinah, menyusul sebagian besarkaum Muslimin yang telah terlebih dahulu hijrah ke sana. Apalagi warga Madinah memang menginginkan agar Nabi Muhammad SAW pindah ke Madinah, dan mereka berjanji akan melindungi Nabi Muhammad SAW dari tangan jahat para musuh. Beberapa waktu sebelumnya, mereka bahkan telah mengirimkan beberapa orang utusan untuk meyakinkan Nabi Muhammad SAW agar mau berhijrah ke Madinah.

Berdasarkan dua alasan itu, ditambah dengan situasi di Mekah yang semakin tidak menguntungkan, Nabi Muhammad SAW pun memutuskan untuk berhijrah ke Madinah pada tengah malam nanti. Sebelumnya, pada tengah harinya, Nabi Muhammad pergi ke rumah Abu Bakar untuk mengabarkan tentang rencana hijrah tersebut, sekaligus meminta Abu Bakar untuk menyiapkan ségala sesuatu yang diperlukan untuk perjalanan hijrah nanti malam. Nabi Muhammad SAW berpesan kepada Abu Bakar agar rencana ini disimpan rapat-rapat, jangan sampai diketahui oleh orang lain, selain mereka berdua dan keluarga Abu Bakar.

Benar saja, sesuai kesepakatan yang telah ditentukan oleh para pemimpin kabilah Quraisy di Dar An-Nadwah, pada malam hari menjelang hijrah, masing-masing kabilah pun mengirimkan seorang lelaki yang paling kuat di antara mereka untuk mengepung rumah Nabi Muhammad SAW. Mereka itu antara lain Abu Jahal bin Hisyam, Al-Hakam bin Abi Al-'Ash, Uqbah bin Abi Mu'ith, Al-Nadhar bin Al-Harits, Umayyah bin Khalaf, Zam'ah bin Al-Aswad, Thu'aimah bin 'Adiy, Abu Lahab, Ubay bin Khalaf, Nabbih bin Al-Hajjaj, Munabbih bin Al-Hajjaj, dan lain-lain. Sebagian besar dari mereka berkumpul di depan pintu rumah beliau, untuk membunuh Nabi Muhammad saat beliau keluar rumah. Mereka benar-benar telah siap untuk melakukan rencana keji yang telah mereka sepakati di pertemuan Dar An-Nadwah.

Strategi Rasulullah Lolos Dari Kepungan Kafir Quraisy

Sesuai dengan petunjuk Jibril pada malam hari menjelang hijrah, Nabi Muhammad SAW tidak tidur di pembaringannya. Beliau memerintahkan Ali bin Abi Thalib menggantikan beliau dengan mengenakan selimut Hadhrami berwarna hijau yang biasa beliau kenakan saat tidur. Beliau tetap terjaga pada malam itu. Menjelang tengah malam, saat para pemuda pengepung itu lengah, beliau keluar menuju rumah Abu Bakar, tanpa seorang pun dari mereka tahu.

Menurut satu riwayat, saat hendak keluar meninggalkan rumah, Nabi Muhammad mengambil segenggam tanah kemudian menaburkannya ke arah para pengepung, seraya membaca ayat berikut:

“Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat (dinding) dan di belakang mereka juga sekat, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (Q.S. Yâsin [36]: 9)

Allah pun menutup mata mereka, sehingga mereka tidak dapat melihat saat beliau keluar dari rumah menuju rumah Abu Bakar. Setelah itu bersama Abu Bakar, beliau keluar dari kota Mekah menuju Gua Tsur, ke arah Yaman. Dari sinilah perjalanan hijrah yang penuh onak dan duri itu akan segera dimulai.

Sementara itu, kaum musyrikin yang mengepung rumah beliau masih terus menunggu, sampai tiba waktu tengah malam. Saat tengah malam tiba, sebenarnya salah seorang dari kaum Quraisy yang tidak ikut dalam pengepungan itu telah memberi tahu mereka bahwa sebenarnya Nabi Muhammad SAW telah lolos. Muhammad sudah keluar meninggalkan rumah sesaat sebelum tengah malam. Tetapi mereka tidak mempercayai omongan orang tersebut, karena mereka merasa terus terjaga dan telah mengepung rumah Nabi Muhammad dengan ketat, sehingga menurutnya tidak mungkin Nabi Muhammad dapat lolos. Apalagi setelah sebagian pengepung itu mengintip ke tempat tidur Nabi Muhammad dari celah-celah pintu, mereka melihat ada orang yang sedang tidur pulas dengan selimut menutupi tubuhnya. Mereka menduga bahwa orang yang sedang tidur itu adalah Nabi Muhammad. Mereka pun terus berada dalam keadaan seperti itu; berjaga dan mengepung rumah Nabi Muhammad sampai pagi tiba.

Mereka baru tersadar bahwa 'buruan' mereka lolos, setelah pada pagi hari itu mereka mendapati bahwa Ali bin Abi Thaliblah orang yang bangun dari tempat tidur Muhammad SAW. Mereka benar-benar naik pitam, kecewa, dan merasa tertipu. Mereka merasa seolah-olah sedang dipermainkan. Mereka pun mencoba menakut-nakuti Ali bin Abi Thalib agar mau menceritakan di mana keberadaan Nabi Muhammad, namun dengan tegas dan berani Ali bin Abi Thalib menjawab bahwa ia sama sekali tidak tahu tentang keberadaan Nabi Muhammad. Sungguh, sebuah kegagalan yang menyakitkan!

Sumber : MUHAMMAD, Jejak-Jejak Keagungan dan Teladan Abadi, Saiful Hadi El-Sutha

Post a Comment for "Detik-Detik Yang Menegangkan, Strategi Rasulullah SAW Lolos Dari Kepungan Kafir Quraisy"