REAL OR UNREAL (Chapter I - Bayangan Yang Kembali)
REAL OR UNREAL
(Chapter I - Bayangan Yang Kembali)
Gambar : Real or Unreal (aya_crystal)
Ia menoleh ke arah Jay, adiknya, berharap Jay juga melihat apa yang ia lihat. Namun, Jay masih sibuk dengan ponselnya, tak menyadari keanehan yang sedang terjadi.
Tia menelan ludah. Haruskah ia menghampiri lelaki itu?
Saat ia mengumpulkan keberanian untuk melangkah, sesuatu yang aneh terjadi. Kupu-kupu muncul entah dari mana, berputar mengelilingi Jihoon. Sayap-sayap mereka berpendar lembut, seperti serpihan cahaya yang menari di udara.
“Kak Jihoon?” suara Tia bergetar.
Lelaki itu menoleh, tersenyum tipis. Senyum yang begitu familiar, begitu hangat—tetapi juga terasa jauh.
“Kakak!” Tia berlari mendekat, tetapi sebelum ia bisa menyentuhnya, tubuh Jihoon mulai memudar.
Tidak. Ini tidak mungkin!
“Kak, ada apa?!” air mata mulai memenuhi matanya.
Jihoon hanya melambaikan tangannya, matanya penuh dengan sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Tidak. Ini tidak mungkin!
“Kak, ada apa?!” air mata mulai memenuhi matanya.
Jihoon hanya melambaikan tangannya, matanya penuh dengan sesuatu yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
![]() |
Gambar : Pinterest.com |
Tia mengulurkan tangannya, berusaha meraih kakaknya—tetapi yang ia sentuh hanyalah udara kosong. Jihoon menghilang dalam cahaya kupu-kupu itu, meninggalkan kesunyian yang menyayat hati.
Tia jatuh berlutut, dadanya sesak.
Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah Jihoon benar-benar kembali… atau ia hanya datang untuk mengucapkan selamat tinggal?
* * *
“Apa-apaan ini!?” Tia terbangun dengan napas tersengal, keringat dingin membasahi dahinya. Tangannya gemetar saat menghapus air mata yang masih mengalir di pipinya.
Mimpi itu… terlalu nyata.
Dia bisa merasakan kehangatan Jihoon, melihat senyum kakaknya yang samar, dan mendengar suara lembut yang mengucapkan perpisahan. Tapi, itu hanya mimpi… bukan?
Tia menghela napas panjang, mencoba mengendalikan emosinya. Sudah empat tahun berlalu sejak Jihoon menghilang. Berbagai cara telah mereka lakukan untuk menemukannya, namun hasilnya tetap nihil. Tidak ada petunjuk, tidak ada jejak. Seolah kakaknya lenyap begitu saja dari dunia ini.
Tapi kenapa sekarang? Kenapa ia harus bermimpi tentang Jihoon dengan cara seperti itu? Apakah ini pertanda bahwa kakaknya masih hidup?
Ia Mengusap wajahnya, Tia bangkit dari tempat tidur. Pagi telah tiba. Dia harus menjalani hari seperti biasa.
Nama lengkapnya Tia Azheya, anak tunggal dari pasangan Rosalie dan Alpha Saka, dua orang pebisnis yang lebih sering berada di luar negeri daripada di rumah. Tidak masalah—setidaknya, itu memberinya kebebasan untuk keluar rumah sesuka hati tanpa ada yang menghalanginya.
Dengan cepat, ia bersiap dan keluar dari rumah. Dihidupkannya mesin motor, Tanpa pikir panjang, ia memutar gas dan melaju di jalanan kota dengan kecepatan yang terus bertambah.
Di matanya, setiap kendaraan di depannya hanyalah penghalang. Ia melesat di antara mobil-mobil, menerobos setiap celah yang bisa ia tembus. Semakin cepat, semakin baik. Itu satu-satunya cara untuk mengalihkan pikirannya dari mimpi semalam.
Setelah beberapa saat, ia akhirnya berhenti di depan sebuah rumah yang sudah tak asing lagi baginya. Rumah Jay, adik Jihoon.
Tia mengetuk pintu beberapa kali. Tidak ada jawaban.
"Aduh… lupa kabarin…" keluhnya, lalu buru-buru mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Jay.
Nomor yang Anda tuju tidak aktif atau berada di luar jangkauan.
Tia mendesah kesal. Kemana lagi anak itu pergi pagi-pagi begini?
Mata Tia menelusuri sekitar kompleks perumahan hingga pandangannya jatuh pada seseorang di lapangan. Seorang lelaki tengah berlatih dengan serius, tubuhnya bergerak dengan ritme yang teratur dan penuh konsentrasi. Bahkan dengan pencahayaan lampu yang redup, ia tetap berlatih tanpa gangguan.
Tia menghampiri lelaki itu, dan menyodorkan sebuah botol air kepada nya, jay menatap kosong ke dalam botol air yang terguling di sampingnya. Bayangan wajahnya terpantul samar di permukaan air yang bergetar, seolah mencerminkan kegelisahan yang menguasai dirinya.
"Gimana? Ada kabar tentang kakak?" suara itu memecah keheningan, penuh harap.
Jay menghela napas panjang sebelum menggeleng pelan. "Belum…" ucapnya lirih. Pandangannya mengarah ke langit senja, berharap keajaiban akan datang. Namun, harapan itu terasa semakin jauh, tertelan gelapnya kenyataan yang tak kunjung berubah.
Lelah. Putus asa. Perasaan ingin menyerah terus menghantui. Ia teringat kata-kata dari sebuah buku motivasi: Rela menerima hidup bukan berarti menyerah tanpa berusaha. Tapi, bagi Jay, motivasi itu terasa hampa. Kenyataan lebih kejam dari sekadar rangkaian kata-kata bijak.
"Untuk sekarang, aku bahkan tidak tahu siapa yang menangkapnya… di mana… ke mana… apa yang terjadi padanya… bagaimana keadaannya… apakah dia baik-baik saja atau…" Suaranya tercekat.
Jay terdiam, tak sanggup melanjutkan. Tenggorokannya terasa kering, dadanya sesak. Saat ini, ia bahkan tak tahu harus bersandar kepada siapa. Tak ada petunjuk, tak ada jalan keluar. Yang bisa ia lakukan hanyalah terus berlatih.
Mungkin suatu saat nanti, kesempatan akan berpihak kepadanya. Entah itu untuk menyelamatkan kakaknya… atau membalas dendam.
Penulis : aya_crystal
Post a Comment for "REAL OR UNREAL (Chapter I - Bayangan Yang Kembali)"